Rabu, 19 Agustus 2009

Ironi Peran Media Massa dalam Pilpres 2009

Oleh: Rian Alvin
( Wakadept Politik & Hukum BEM FHUI 09)

Pilpres 2009 sebentar lagi akan datang menyapa masyarakat Indonesia. Saat-saat yang amat dinanti oleh masyarakat Indonesia untuk menentukan nasib mereka di tangan pemimpin yang akan memandu mereka selama lima tahun kedepan. Pilpres kali ini notabenenya merupakan pilpres yang demokratis untuk kedua kalinya setelah pilpres 2004, dan di tahun ini banyak dinamika politik yang menarik untuk kita simak bersama. Salah satu yang menarik ialah mengenai peran media massa dalam mensukseskan ajang demokratis lima tahunan ini.

Media massa merupakan elemen penting yang harus dikuasai oleh para calon presiden untuk dapat memenangkan pertarungan di Pilpres tahun ini. Penguasaan pada media massa akan memberikan efek pengaruh luar biasa bagi masyarakat Indonesia untuk dapat menjatuhkan pilihan kepada sang kandidat. Pertanyaannya sekarang ialah penguasaan seperti apa yang seringkali dicoba oleh kandidat capres dan cawapres dalam memenangkan hati pemilih melalui media massa? Jawaban yang sangat umum ialah berkampanye melalui media massa. Efektifkah? Mari kita bahas lebih mendalam sembari jujur kepada diri sendiri dalam menyikapi iklan kampanye di media massa.

Secara umum, format kampanye dapat dibagi dalam dua bentuk. Pertama, kampanye melalui media-media sosial atau kampanye melalui jalur-jalur interpersonal dan kedua ialah kampanye melalui media massa. Kedua format kampanye ini saling melengkapi satu dengan lainnya. Akan sangat naïf apabila seorang kandidat hanya fokus pada satu format saja dan mengabaikan format lainnya. Namun, demi efektifitas dan efisiensi yang mumpuni seorang kandidat haruslah lihai dalam memanfaatkan secara optimal salah satu cara berkampanye dengan cara melihat kepada sifat khalayak yang hendak diraih simpatinya. Maksudya ialah bila sebagian masyarakat adalah mereka yang sudah memiliki loyalitas cukup tinggi terhadap salah satu kandidat, maka berkampanye melalui media massa akan memberikan hasil yang minimal bagi si kandidat. Kampanye melalui media massa akan sangat berpengaruh dan relevan apabila diterapkan dan disampaikan kepada mereka yang masih belum menentukan pilihannya (swing voters), dengan asumsi bahwa masih terbuka kompetisi yang cukup berimbang bagi para calon untuk berebut simpati dari para swing voters ini.

Sebagaimana yang kita semua sadari bahwa sikap masyarakat Indonesia secara umum tidak akan dengan mudah termakan oleh janji-janji yang ditawarkan oleh kandidat dalam kampanye di media massa. Selain menyaksikan iklan kampanye di media massa, masyarakat Indonesia secara individu juga akan mencari tahu informasi mengenai si kandidat melalui perbincangan dengan keluarganya, teman-teman kampusnya, teman-teman arisannya dan seterusnya. Masyarakat juga akan mencoba mengingat-ingat masa lalu para kandidat dan menjadikannya bahan pertimbangan untuk menilai si kandidat secara keseluruhan. Singkatnya kampanye media massa tidak akan terlalu efektif dalam mempengaruhi pilihan masyarakat seutuhnya.

Di lain pihak, dalam era demokrasi saat ini dimana terdapat kebebasan dalam mengakses dan mendapatkan informasi, bisa dikatakan seoang kandidat yang tidak menggunakan sarana media massa dengan baik hampir pasti akan mendapatkan kegagalan dalam meraih dukungan masyarakat secara massif. Tingkat ketergantungan masyarakat pada media massa saat ini sangatlah tinggi sehingga terdapat sebuah kepercayaan bahwa “Anda ada, kalau Anda ada di media”. Mereka yang tidak terlihat di media massa akan dianggap tidak eksis dimata masyarakat. Begitu pun dengan para kandidat presiden dan wakil presiden pada Pilpres tahun ini. Seorang kandidat yang dirasa kurang oleh masyarakat untuk tampil di media bisa menimbulkan sebuah persepsi bahwa kandidat ini tidaklah terlalu “nyata” bagi masyarakat.

Kondisi peran media massa seperti ini ibarat telah menjadi sebuah pilihan yang sulit bagi para kandidat. Di satu sisi ketika mereka berkampanye secara aktif di media massa, mereka beresiko mendapatkan hasil yang minimal ketika masyarakat yang mereka hadapi adalah masyarakat yang sudah mempunyai loyalitas tingi terhadap pilihan mereka sebelumnya. Di sisi lain ketika mereka mencoba menarik diri dari kempanye melalui media massa, maka masyarakat luas akan mempertanyakan eksistensi dan kesungguhan niat mereka untuk mencalonkan diri dalam menjadi pemimpin bangsa ini. Dilihat dari perspektif seperti ini, industri medialah yang sangat diuntungkan karena mereka akan menadapatkan kucuran uang dari para kandidat untuk berkampanye di media massa, bukan masyarakat. Akan tetapi masyarakat sendiri hendaknya harus lebih selektif dalam menentukan pilihan mereka untuk menghindari menjadi korban pencitraan para kandidat dalam berkampanye di media massa. Oleh karena itu kedepannya metode kampanye via media massa tidaklah menjadi patokan utama bagi masyarakat dalam menentukan pilihan. Kampaye yang tulus bukanlah kampanye yang digelar sebulan atau seminggu sebelum pemilihan diadakan, melainkan setahun, dua tahun bahkan lima tahun sebelum pemilihan diadakan dengan cara berkontribusi konkrit di tengah masyarakat. Meskipun faktanya peran media massa saat sekarang ini telah menjadi sebuah ironi bagi demokrasi di Indonesia, tapi begitulah adanya jika kita melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar